Kenalilah dirimu

Kenalilah dirimu 

Kalau kau pahami dirimu sendiri

Kau akan bisa memisahkan yang kotor dari yang suci

Pertama, akrablah dengan dirimu

Kemudian Jadilah pembimbing lingkunganmu

Kalau kau kenal dirimu, Kau akan mengetahui segalanya

Kalau Kau pahami dirimu, kau akan terlepas dari bencana

Kau tak tahu nilaimu sendiri.

            Langit yang tujuh dan bintang yang tujuh adalah budakmu

Namun, kasihan kau tetap membudak pada ragamu

Jangan pusingkan kenikmatan hewani

Kalau kau pencari surgawi

Jadilah manusia sejati

Tinggalkan tidur dan pesta

Tempuhlah perjalanan hati seperti pertapa

Dengan ilmu jiwamu bertunas

Jagalah sekarang juga

Sudah berapa lama kau tidur?

            Pandanglah dirimu sendiri

            Kau sesungguhnya luhur

            Renungkan, coba pikirkan dari mana kau datang ?

            Dan kenapa kau dalam penjara ini sekarang?

Jadilah penentang berhala bagai Ibrahim yang pemeberani

Ada maksud kau dicipta serupa ini

Sungguh malang kalau Kau telantarkan maksud penciptaanmu ini

                                                                               (NN)

Dalam buku Spiritualitas dan Realitas Kebudayaan Kontemporer by Alfathri Adlin (Ed)

Advertisements

Write the bad things that are done to you in sand, but write the good things that happen to you on a piece of marble (Neil Patel)

Speleologi

SPELEOLOGI

Menurut IUS (International Union of Speleology) anggota komisi X UNESCO PBB yang berkedudukan di Wina Austria :

“ Gua adalah setiap ruangan bawah tanah yang dapat dimasuki orang “

Menurut R.K.T.Ko (Speleogiawan) :

“Setiap lubang di bawah tanah baik terang maupun gelap, luas maupun sempit, yang terbentuk melalui sistem percelahan, rekahan atau aliran sungai yang kadang membentuk suatu lintasan aliran sungai bawah tanah”

Gua memiliki sifat yang khas dalam mengatur suhu udara di dalamnya, yaitu pada saat udara diluar panas maka didalam gua akan terasa sejuk, begitu pula sebaliknya. Sifat tersebut menyebabkan gua dipergunakan sebagai tempat berlindung. Gua – gua yang banyak ditemukan di Pulau Jawa dan pulau – pulau lainnya di Indonesia, sebagian besar adalah gua batu gamping atau gua karst. Gua merupakan suatu lintasan air di masa lampau dan kini kering (gua fosil) atau dimasa kini, dan terlihat dialiri sungai (gua aktif). Karenanya mempelajari gua tidak terlepas dari mempelajari hidrologi karst dan segala fenomena karst dibawah permukaan (endo karst phenomena) supaya memahami cara – cara gua terbentuk dan bagaiman memanfaatkannya sebagai sumber daya alam yang mempeunyai nilai estetika tinggi sebagai objek wisata gua, atau sebagai sumber air, tanpa mencemarinya.

Di dunia ini terdapat berbagai jenis gua alam yaitu :

90% dari gua-gua di dunia adalah gua yang materi pembentuknya dari batu kapur.

Sejarah Penelusuran Gua

Tidak ada catatan resmi kapan manusia menelusuri gua. Berdasarkan peninggalan – peninggalan, berupa sisa makanan, tulang belulang, dan juga lukisan – lukisan, dapat disimpulkan bahwa manusia sudah mengenal gua sejak puluhan tahun silam yang tersebar di benua Eropa, Afrika, dan Amerika.

Menurut catatan yang ada, penelusuran gua dimulai oleh John Beaumont, ahli bedah dari Somerset, England (1674). Ia seorang ahli tambang dan geologi amatir, tercatat sebagai orang pertama yang menelusuri sumuran (potholing) sedalam 20 meter dan menemukan ruangan dengan panjang 80 meter, lebar 3 meter, serta ketinggian plafon 10 meter, dengan menggunakan penerangan lilin. Menurut catatan, Beaumont merangkak sejauh 100 meter dan menemukan jurang (internal pitch). Ia mengikatkan tambang pada tubuhnya dan minta diulur sedalam 25 meter dan mengukur ruangan dalam gua tersebut. Ia melaporkan penemuan ini pada Royal Society, Lembaga Pengetahuan Inggris. Orang yang paling berjasa mendeskripsikan gua – gua antara tahun 1670-1680 adalah BARON Johann Valsavor dari Slovenia. Ia mengunjungi 70 gua, membuat peta, sketsa, dan melahirkan buku setebal 2800 halaman.

Joseph Nagel, pada tahun 1747 mendapat tugas dari istana untuk memetakansistem perguaan di Kerajaan Astro-Hongaria. Sedangkan wisata gua pertama kali tercatat tahun 1818, ketika Kaisar Habsbrug Francis I dari Austria meninjau gua Adelsberg (sekarang bernama gua Postojna) terletak di Yugoslavia. Kemudian wiraswastawan Josip Jersinovic mengembangkannya sebagai tempat wisata dengan memudahkan tempat itu dapat dicapai. Diberi penerang dan pengunjung dikenai biaya masuk. New York Times pada tahun 1881 mengkritik bahwa keindahan gua telah dirusak hanya untuk mencari keuntungan.

Stephen Bishop pemandu wisata yang paling berjasa, ia budak belian yang dipekerjakan oleh Franklin Gorin seorang pengacara yang membeli tanah disekitar gua Mammoth, Kentucky Amerika Serikat pada tahun 1838. dan kini gua Mammoth diterima UNICEF sebagai warisan dunia.

Sedangkan di Indonesia, faktor mistik dan magis masih melekat erat di gua – gua. Baik gua sebagai tempat pemujaan, sesaji maupun bertapa. Namun semuanya memiliki nilai budaya, legenda, mistik, dan kepercayaan sesuatu terhadap gua perlulah didokumentasikan dan dihargai sebagai potensi budaya bangsa. Maka Antropologi juga merupakan bagian Speleologi.

Lahirnya Ilmu Speleologi

Secara resmi ilmu Speleologi lahir pada abad – 19 berkat ketekunan Edward Alferd Martel. Sewaktu kecil ia sudah mengunjung gua Hahn di Belgia dengan ayahnya seorang Paleontologi, kemudian juga mengunjungi gua Pyrenee di Swiss dan Itali. Pada tahun 1888 ia mulai mengenalkan penelusuran gua dengan peralatan, pada setiap musim panas ia dan teman – temannya mengunjungi gua – gua dengan membawa 2 gerobak penuh peralatan, bahan makanan, dan alat fotografi. Martel membuat pakaian berkantung banyak yang sekarang disebut cover all (wearpack). Kantung itu diisi dengan peluit, batangan magnesium, 6 lilin besar, korek api, batu api, martil, 2 pisau, alat pengukur, thermometer, pensil, kompas, buku catatan, kotak P3K, beberapa permen coklat, sebotol rum dan telepon lapangan yang ia gendong. Sistem penyelamatannya dengan mengikatkan dirinya kalau naik atau menuruni dengan tali.

Tahun 1889, Martel menginjakkan kakinya pada kedalaman 233 m di sumuran ranabel, dekat Marseille, Perancis dan selama 45 menit tergantung di kedalaman 90 m. Ia mengukur ketinggian atap dengan balon dari kertas yang digantungi spon yang dibasahi alkohol, begitu spon dinyalakan balon akan naik keatas mencapai atap gua. Hingga kini Edward Alfred Martel disebut bapak Speleologi. Kemudian banyak ahli speleologi seperti : Pournier, Jannel, Biret, dan banyak lagi.

Baru setelah PD I Robert De Jolly dan Nobert Casteret mampu mengimbangi MARTEL. Robert de Jolly mampu menciptakan peralatan gua yang terbuat dari alluminium Alloy. Nobert Casteret orang pertama yang melakukan “Cave Diving” pada tahun 1922, dengan menyelami gua Motespan yang di dalam gua itu ditemukan patung – patung dan lukisan bison serta binatang lain dari tanah liat, yang menurut para ahli, itu sebagai acara ritual sebelum diadakan perburuan binatang, ditandai adanya bekas – bakas tombak dan panah. Namun dalam PD II, gua-gua digunakan sebagai tempat pertahanan, karena pertahanan di gua akan sulit ditembus walaupun menggunakan bom pada waktu itu.

Perkembangan Speleologi di Indonesia

Namun karena adanya perbedaan prinsip dari keduanya maka terpecah, dan mereka masing – masing mendirikan perhimpunan :

Pada tahun tersebut bermunculan club-club speleologi di Indonesia seperti ASC yang berdiri pada tanggal 1 Januari 1984, SSS – Surabaya, DSC – Bali, SCALA – Malang, dll.

Ilmu yang berkaitan erat dengan Speleologi

Dalam mempelajari Speleologi memerlukan pendekatan dari berbagai disiplin ilmu, antara lain :

KODE ETIK PENELUSURAN GUA HIMPUNAN KEGIATAN SPELEOLOGI INDONESIA FEDERATION OF INDONESIA SPELEOLOGICAL ACTIVITY

Penelusuran gua dilarang:

Mengambil sesuatu – kecuali mengambil foto.

Meningkatan sesuatu – keculai meningkatan jejak kaki.

Membunuh sesuatu – kecuali membunuh waktu.

Kode etik ini pertama kali dicetuskan oleh National Speleological Society (Amerika Serikat). Karena mudah dipahami setiap penelusuran gua, maka kode etik ini diterima secara internasional dan menjadi pegangan bagi semua penelusuran gua. Setiap penelusuran gua dilarang mengeluarkan atau memindahkan sesuatu dari bahan gua tanpa tujuan jelas. Bila dilakukan untuk tujuan ilmiah maka tindakan itu harus selektif dan dilaksanakan oleh yang berwenang. Mengambil binatang dalam gua untuk tujuan identifikasi (taksonomi) misalnya, harus disertai kesadaran bahwa jumlah binatang unik itu mungkin sangat terbatas. Dengan demikian, jumlahnya harus dievaluasi terlebih dahulu dan hanya diambil satu atau dua spesimen untuk penelitian. Sebelumnya wajib diketahui, bahwa tidak ada peneliti lain yang sudah mengambil binatang yang sama, dari gua yang sama, untuk penelitian pula.

Kegiatan penelusuran gua wajib dilaksanakan secara tertib, hati – hati dan penuh pengertian. Hindarilah penelusuran gua belantara, yang belum dikelola untuk kunjungan umum, secara masal.

Menelusuri gua belantara oleh banyak orang sekaligus, dengan aneka sumber cahaya untuk penerangan akan merubah iklim mikro gua. Hal ini akan mengusik kehidupan binatang khas gua: apabila kalau para penelusur itu hiruk pikuk. Kelelawar dan burung walet penghuni gua senantiasa terganggu oleh keberadaan penelusur gua. Binatang yang memegang peran penting untuk menjaga keseimbangan ekologi di atas permukaan tanaha, potensial pindah tempat bila suatu gua belantara terlampau sering dikunjungi orang.

Kegiatan menelusuri gua, baik dari segi olahraga, petualangan maupun ilmiah, bukanlah hal yang perlu dipertontonkan dan tidak perlu penonton.

Ingat bahwa tidak semua orang yang berkeinginan memasuki gua menjiwai kode etik dan moral penelusuran gua. Banyak di antaranya masih bersifat vandalis yang sering mengotori gua, mencoret-coretinya, bahkan mematahkan dekorasi gua berumur ribuan tahun atau menangkap binatang khas gua untuk cindera mata (suvenir). Karenanya jangan mengajak sembarang orang masuki gua dengan tujuan untuk mempertontonkan kebolehan, keberanian atau keterampilan si pengajak. Bila suatu gua dirusak vandalis yang ternyata pernah diajak seorang penelusur gua, maka sipengajak yang bertanggung jawab.

Penelusur gua wajib bertindak wajar. Tidak melampui batas kemampuan fisik maupun teknik dan kesiapan mental dirinya sendiri. Tidak memandang rendah kesanggupan sesama penelusur.

Cukup sering terjadi atau kecelakaan dalam gua karena penelusur memaksakan dirinya melakukan tindakan – tindakan teknis yang belum dikuasai secara sempurna. Hal ini dilakukan karena rasa malu terhadap sesama penelusur yang lebih terampil atau dicemoohkan bila terbukti tidak mampu. Itu sebabnya pemimpin penelusur gua wajib mengenal keadaan fisik, mental dan derajat ketrampilan masing – masing penelusur gua. Ketrampilan teknis, mental dan fisik penelusur gua yang paling tidak mampu harus dijadikan patokan intensitas penelusuran gua.

1.1           Senantiasa menunjukkan respek pada penelusur gua lain dengan cara

0       Tidak mengambil atau memindahkan alat atau perlengkapan yang sedang digunakan atau ditinggalkan mereka tanpa izin pemiliknya.

0       Tidak melakukan tindakan – tindakan yang membahayakan penelusur gua lain.

0       Tidak menghasut pihak ke tiga untuk menghalangi penelusur gua lainnya memasuki gua.

0       Tidak melakukan duplikasi penelitian yang sedang dilakukan peneliti lain, pada gua yang sama.

Tidak melakukan publikasi kepertualangan dalam media masa dengan tujuan memamerkan diri atau kelompok dan menyebut nama serta lokasi gua, karena hal itu senantiasa mengundang para vandalis dan petualang lainnya yang tidak atau belum memiliki kode etik dan moral penelusuran gua, untuk mengunjungi gua tersebut.

Secara internasional butir kode etik ini dipegang teguh. Bila suatu lokasi gua belantara dipublikasikan dalam media massa, diimbuhi dengan deskripsi keindahan, keunikan atau “tantangan “ gua tersebut, maka berita demikian senantiasa menjadi daya tarik bagi petualang lain, yang belum tentu memiliki ketrampilan yang memadai dan etika konservasi lingkungan alam bawah tanah. Akibatnya ialah rusaknya gua tersebut atau muzibah yang dialami oleh penelusur yang belum siap mental, fisik dan teknis. Publikasi untuk umum dalam media massa boleh dilakukan, asal proporsional. Tidak dilebih-lebihkan, dan pakailah nama maupun lokasi fiktif gua. Yang diutamakan ialah laporan lengkap yang diserahkan kepada instansi yang berhak mendapatkannya dan para pemberi rekomendasi serta izin penelusuran gua.

Bila dibutuhkan surat rekomendasi untuk mendapat izin menelusuran suatu gua, maka penerima rekomendasi dan izin wajib membuat laporan selekasnya, yang diserahkan kepada pihak – pihak tersebut.

 


KEWAJIBAN PENELUSUR GUA

 

Senantiasa memperhatikan keadaan cuaca. Tidak memasuki gua yang mudah kebanjiran pada musim hujan.

Senantiasa menyadari, bahwa kegiatan penelusuran gua bukan merupakan hak, tetapi wajib dianggap sebagai suatu anugrah, rahmat, karunia dan berkah (privilege)

Memilih sebagai tujuan utama penelusuran gua: koservasi (pencagaran) gua dan lingkungannya. Karenanya wajib menjaga kebersihan gua dan lingkungannya.

Wajib memberi pertolongan sesuai dengan batas kemampuan, bila ada penelusur gua dari rombongan lain yang membutuhkannya.

Bertindak sopan dan tidak menggangu ketenteraman penduduk didekat lokasi system perguaan. Tidak boleh menyinggung perasaan mereka.

Mengikuti secara patuh dan seksama semua prosedur perizinan yang dipersyaratkan dan memberi laporan kepada pemberi izin.

Wajib memberitahukan kepada sesama penelusur, bila dijumpai bagian – bagian yang berbahaya dalam gua tertentu.

Bila mengalami suatu muzibah, maka hal itu tidak boleh dirahasikan. Wajib dilaporkan kepada penduduk dan pemerintahan daerah setempat, kepada pengawas dan pengelola wilayah tersebut dan semua penggiat penelusur gua yang dikenal, untuk disebarluaskan, agar jangan sampai muzibah tersebut terulang kembali.

Bila ada rencana menelusuri gua, wajib memberitahukan kepada keluarga, rekan atau sesama anggota perkumpulan, penduduk dan kepala desa terdekat data sebagai berikut:

1.                   Maksud dan tujuan menelusuri gua, rencana waktu masuk, rencana waktu keluar, daftar nama penelusur lengkap alamat dan nomor telepon.

2.                   Bila sampai terjadi muzibah, atau belum keluar pada waktu yang sudah ditentukan, siapa yang harus dihubungi dan dengan cara apa.

3.                   Wajib memilih dan patuh kepada pemimpin penelusur gua yang kompeten, berwibawa dan sudah berpengalaman. Khususnya dalam menentukan kesiapan mental, fisik dan derajat ketrampilan penelusuran gua, yang wajib disesuaikan dengan derajat kesulitan gua.

 

Wajib mempelajari semua acuan yang dibutuhkan sebelum memasuki gua: peta geologi, peta topografi, keadaan iklim, khususnya curah hujan, peta-peta gua yang ada, literatur terkait, menghubungi nara sumber, mengumpulkan dan menganalisa informasi penduduk setempat atau jurukunci perihal gua tersebut.

 

Wajib mempersiapkan diri secara fisik, mental dan ketrampilan menggunakan semua alat atau perlengkapan yang harus tersedia secara lengkap, sesuai kebutuhkan.


BAHAYA-BAHAYA PENELUSURAN GUA DAN PENCEGAHANNYA

HIMPUNAN KEGIATAN SPELEOLOGI INDONESIA

FEDERATION OF INDONESIA SPELEOLOGICAL ACTIVITIES

 

Apabila hendak membicarakan “BAHAYA” penelusuran gua, maka secara konseptual dan diakui secara INTERNASIONAL ialah adanya dua pengertian yang berbeda pendekatannya.

Kedua pengertian itu harus diperhatikan secara bersama, tidak boleh terpisah dan keduanya harus ditangai secara bersama. Baik dari segi perizinan, rekomendasi, kegiatan penelusuran gua, pendataan gua, konsep pengolahan gua, untuk tujuan apapun.

  1. Pengertian ANTROPOSENTRISME.
  2. Pengertian SPELEOSENTRISME.

 

  1. 1. ANTROPOSENTRISME.

Dalam pemikiran ANTROPOSENTRISME, yang diperhatikan sebagai obyek utama ialah MANUSIA PENGUNJUNG GUA.

MANUSIALAH yang perlu dilindungi terhadap bahaya. Ia harus aman, nyaman menelusuri gua.

Hal ini terutama dianut (secara salah, karena hanya memperhatikan satu segi saja) oleh para konsultan, pihak berwenang, pada waktu membuka gua untuk umum.

Karena hanya mengutamakan keselamatan manusia, maka gua dikorbankan dan akan rusak.

Bahaya – bahaya dari sudut pandang ANTROPOSENTRISME:

1.1.       Terpeleset  / terjatuh dengan akibat fatal, atau gegar otak, terkilir, terluka, patah tulang, dsb.

Hal ini paling sering terjadi, antara lain karena: penelusur terburu-buru, loncat, salah menduga jarak yang dilangkahi, dsb.

1.2.       Kepala terantuk atap gua / stalaktit / bentukan gua lainnya.

Akibatnya: luka memar, luka berdarah, gegar otak. Wajib pakai helm.

1.3.       Tersesat. Terutama bila lorong bercabang – cabang dan daya orintasi pemimpin regu penelusuran gua kurang baik. Karenanya setiap penelusur wajib dilakukan dengan penuh perhatian oleh setiap penelusur. Bentuk lorong yang telah dilewati, dibelakang punggung harus diperhatikan secara periodic, karena saat kembali pasti berbeda dengan saat pergi.

Pada setiap percabangan ditnggalkan tanda yang mudah diperhatikan dan tidak merusak lingkungan (misalnya tumpukan batu, atau kertas berwarna dan berefleksi bila kena sorotan lampu (fluorensensi) yang mudah diangkat kembali). Bisa juga menelusi gua sambil mengukurnya dengan tali topofil. Pulangnya tinggal ikuti tali tersebut sambil menggulungnya kembali. Hal ini tambah penting, apabila kecuali bercabang gua bertingkat banyak.

1.4.       Tenggelam. Terutama apabila nekat memasuki gua pada musim hujan tanpa mempelajari topografi dan hidrologi karst maupun sifat sungai di bawah tanah. Bahaya menjadi semakin nyata kalau harus melewati air terjun atau jeram deras. Apabila kalau harus melakukan penyelaman bebas tanpa alat dan penelusur kurang mahir berenang / menyelam.

Mengarungi sungai yang dalam, harus pakai tali pengaman dengan lintasan tetap.

1.5.       Kedinginan (hipotermia). Hal ini terutama bila lokasi gua jauh di atas permukaan laut, penelusur beberapa jam terendam air, dan adanya angin kencang yang berhembus dalam rolong tersebut.

Diperberat apabila penelusur lelah, lapar, tidak pakai pakian memadai. Karenanya harus tepat tahu lokasi mulut gua dan lorong-lorong, ketinggiannya di atas permukaan laut (diukur pakai altimeter), suhu air dan udara dalam gua. Harus pula masuk gua dalam keadaan fisik sehat, cukup makan dan bawa makanan cadangan bergizi tinggi.

1.6.       Dehidrasi, Kekurangan cairan. Hal ini sudah merupakan bahan penelitian cermat di Perancis (lihat Warta Speleo No 9 1987, halaman 49-53).

Hampir senantiasa, bila sudah timbul rasa haus, sudah ada gejala dehidrasi dan minum cairan sudah terlambat: tidak akan memenuhi kebutuhan lagi.

Karenanya sudah merupakan suatu kewajiban yang tidak dapat ditawar lagi lagi, bahwa sebelum memasuki gua, setiap penelusur harus minum secukupnya. Semakin mengeluarkan tenaga, harus cukup istirahat dan minum kembali. Cairan paling tepat untuk menghindari dehindrasi ialah larutan oralit atau garam anti-diare.

1.7.       Keruntuhan atap atau dinding gua.

Ini memang nasib sial, tetapi sudah cukup sering terjadi di luar negeri menaiki tebing dengan andalan pada paku tebing yang dindingnya rapuh. Atau bila kebetulan terjadi gempa bumi.

Karenanya wajib mempelajari dan memperhatikan sifat batu – batuan dinding dan atap gua. Runtuhan atap yang berserakan bukan berarti gua itu rapuh, karena mungkin saja atap itu sudah puluhan tahun yang lalu runtuh, tetapi penelusur wajib memperhatikan apakah lapisan – lapisan batu gamping yang menunjung atap itu kuat sudah terlihat terlepas.

1.8.       Radiasi dalam gua. Hal ini belum diperhatikan sama sekali di Indonesia, padahal di luar negeri sudah merupakan bahaya nyata. Terutama akibat gas radioaktif RADON dan turunannya.

Penelusur yang sering memasuki gua yang ber gas Radon ini, dapat menyerap secara akumulatif gas ini ke dalam paru – parunya, dan terbukti, apabila penelusur gemar merokok, maka bahaya menderita kanker paru – paru akan berlipat ganda. Itu sebabnya sangat dicela penghisap rokok menjadi penelusur gua. Merokok di dalam gua dilarang mutlak karena meracuni udara gua dan merusak paru-paru penelusur lainnya yang tidak merokok.

1.9.       Keracuanan gas. Ini yang paling ditakuti awam.

Memang bahaya itu ada, terutama bila sirkulasi dalam gua kurang baik. Gas yang senantiasa ada dalam gua ialah gas CO2, karena tetasan air dari dinding dan atap gua senantiasa mendifusikan gas CO2 ini.

Lebih-lebih bila terlihat menjuntai akar-akar pohon, atau banyak bahan organic yang membusuk di atas lantai gua (daun, ranting, dsb yang hanyut ke dalam gua sewaktu banjir). Gejalanya: nafas akan sesak, frekuensi bertambah banyak, melebihi keadaan normal. Dengan mengeluarkan tenaga yang relatif ringan, nadi bertambah cepat secara tidak seimbang. Karenanya setiap penelusur gua wajib mengetahui frekuensi nadinya masing-masing pada saat pada saat istirahat dan mengeluarkan tenaga. Gerakan nafas menjadi dalam. Jantung berdebar, mata berkunang-kunang.

Kemudian kepala menjadi pening, mual, hilang orentasi, bahkan tidak ingat nama teman. Timbul kemudian halusinasi, pingsan dan mati.

Wajib bagi kita bawa lilin. Nyalakan bila mulai timbul gejala sulit bernafas. Bila kandungan CO2 rendah, lilin, bahkan korek api tidak akan menyala. Jangan andalkan cahaya lampu karbit. Lampu karbit masih menyala, padahal si pemakainya mungkin sudah pinsang.

Gas racun dapat juga akibat penggunaan dinamit untuk membongkar bukit kapur. Di Belgia (1982) terbukti gas racun merambat sampai 3 km lebih dari lokasi penelusur gua, dengan akibat fatal bagi 7 orang sekaligus. Jangan memasuki gua bila disekitarnya ada pendinamitan.

Gua yang banyak kelelawarnya juga tinggi kandungan CO2-nya (Gua Ngerong, Tuban; Gua Lawa, Nusakambangan; dsb). Hal ini karena kelelawar membutuhkan banyak O2 sewaktu terbang, terusik oleh masuknya orang ke dalam gua (sehingga orangnya juga kekurangan O2) dan tumpukan guano (khususnya bila jenis kelelawarnya pemakan buah atau penghisap, nectar), yang mengalami proses fermentasi / peragian, akan menghasilkan banyak gas CO2.

Gua yang banyak kelelawarnya hanya boleh dimasuki pada malam hari, saat gua itu tidak ada kelelawarnya. Lorong penuh kelelawar harus dihindari.

1.10.   Penyakit – penyakit akibat kuman / virus, dsb.

1.10.1.       Histoplasmosis.Teramat sering diderita penelusuran gua di AS, terutama bila lorongnya penuh guano kering. Parasit Histoplasmosis capsulatum bila terhirup, akan menginfeksi paru-paru. Gejalanya sering mirip TBC, lengkap dengan batuk berdarah, sesak nafas, tubuh lemah, dan sering pula gagal diobati dokter, karena menyangka adanya TBC paru-paru (juga menurut gambaran Rontgen). Pasien wajib memberitahukan pada dokter akan kemungkinan penyakit ini, yang baru terungkap setelah dilakukan tes darah tertentu (titer histoplasma diperiksa dan akan memberi hasil tertinggi).

Parasit ini bahkan bisa menyebar ke seluruh darah, ginjal dan otak, dengan akibat kematian. Karenanya wajib menghindari gua kelelawar dan bila tetap ingin menelusurinya wajib memakai tutup hidung khusus. Tutup hidung itu dapat dibeli di beberapa toko besi atau pakai tutup hidung ahli bedah.

1.10.2.       Rabies. Hal ini sungguh mengejutkan pada penelusur gua di TEXAS, karena ada 7 penelusur sekaligus mati, terinfeksi rabies, padahal tidak digigit kelelawar, yang terkadang memang terinfeksi virus rabies. Gua FRIO yang mereka masuki memang banyak sekali kelelawarnya. Ketika ada tim dokter yang meneliti udara dalam gua, ternyata penuh dengan tetesan liur kelelawar, yang mengandung virus rabies.

Virus ini memasuki paru-paru karena terhirup oleh bernafasnya penelusuran gua dan matilah penelusur itu, tanpa digigit kelelawar. Hal ini sekali lagi dapat disegah, apabila tidak memasuki gua yang banyak kelelawarnya, dan bila tetap memasukinya, harus pakai masker/tutup hidung). Di Indonesia belum ada yang meneliti apakah kelelawar ada yang sakit rabies. Yang jelas di Indonesia tidak ada vampir, penghisap darah. Kelelawar terjangkit rabies akibat menghisap darah ternak atau binatang yang menderita rabies. MULUS FEET. Ketika tim Inggris menelusuri gua-gua di Mulu (Serawak) selama beberapa minggu banyak yang kulit kaki dan jari-jarinya rusak. Terinfeksi berat, bahkan sampai membusuk. Diduga bahwa hal ini ditimbulkan oleh gabungan infeksi jamur dan bakteri. Kaki harus tetap kering, dan bila basah terendam air, jangan dibiarkan basah berjam-jam lamanya. Sebaiknya secara teratur mengganti kaos kaki dan ditaburi bedak antibiotika.

Gatal-gatal terutama di bagian-bagian yang tidak tertutup pakaian. Hal ini sering sekali terjadi di Indonesia. Diduga bahwa gatal-gatal ini, yang berupa bintil-bintil dan persisten selama beberapa bulan.dtimbulkan oleh gigitan kutu (ektoparasit) kelelawar, yang juga mungkin dijumpai dalam guanonya.

Leptospisis. Hal ini banyak makan korban pada penelusur gua di Mulu. Badan mengigil, demam, pegal-pegal, lemas. Diduga malaria, ternyata pada saat diteliti secara serologis, di Inggris terbukti akibat tertular kuman leptospira, yang biasanya ditemukan dalam kencing tikus. Hal ini terutama serta minumnya tercemar kencing tikus gua.

1.10.3.       Gigitan binatang beracun.

Ular, kalajengking, Lipan. Ular terjerumus dalam gua melalui lubang atap atau hanyut akibat banjir. Ular tersebut menjadi pemangsa kelelawar. Gigitan binatang apapun harus dianggap serius, dan penelusur yang digigit atau disengat harus keluar gua. Itu sebabnya setiap langkah dalam gua harus dilakukan dengan hati-hati, penuh kewaspadaan. Apalagi bila memegang sesuatu pada dinding atau atap gua untuk menjadi keseimbangan.

Keracuan bahan pencemar air dalam gua. Berbagai insektisida dan pupuk kimia, dapat merupakan polutan dan dapat membahayakan penelusur gua. Tim dari Lembaga Ekologi UNPAD pada tahun 1989 dapat membuktikannya adanya kandungan DDT dalam tetesan air dari plafon Gua Petruk.

1.11.   Sambaran petir. Tidak ada yang menyangka, bahwa masuk dalam gua tidak menghindarkan seseorang dari sambaran petir. Hal ini berulang kali terbukti, bahwa jauh ke dalam gua, petir masih dapat menyambar pula.

1.12.   Bahaya akibat kesalahan atau kegagalan peralatan

Hal ini terutama terjadi, apabila kurang persiapan membawa sumber cahaya. Betapa mudahpun suatu gua, penelusur tetap akan mati, bila tidak cukup sumber cahaya. Apabila kalau sampai terserang banjir berjam-jam lamanya. Setiap penelusur gua paling sedikit harus bawa tiga sumber cahaya yang berbeda (termasuk lilin). Sumber cahaya utama harus dipadamkan sewaktu terjebak banjir. Bila perlu selama beberapa jam harus digelapkan, agar masih cukup tersedia sumber cahaya untuk keluar gua setelah banjir lewat.

1.13.   Akibat CAVE DAVING. Di AS (Florida) dalam kurun waktu 10 tahun, yang mati akibat kegiatan CAVE DIVING sudah belasan. Hal ini justeru dialami oleh yang mahir OPEN DIVING (di laut / danau). Mereka kurang hati-hati, dan kurang tingkat disiplinnya terhadap waktu dan jarak tempuh. Berbeda dengan penyelaman di udara terbuka, di atas penyelam gua menghadang atap gua. Bila sudah terdesak waktu dan setiap kali terantuk atap gua, maka penyelam gua biasanya panik dengan akibat fatal karena menghabiskan udara yang dibutuhkan.

Pada umumnya dianut pemeo bahwa, bahwa menelusuri gua itu jauh lebih aman daripada naik kendaraan menuju gua  atau pulang dari penelusuran gua. Jalan raya adalah tempat yang jauh lebih rawan daripada gua.

Keamanan menelusuri gua sangat tergantung kepada sikap dan tindak tanduk si penelusur gua itu sendiri. Untuk memudahkan si penelusur gua mengingat semua tindakan pengaman, maka HIKESPI telah menyusun ringkasan singkat mudah diingat.

Kemana Anda pergi memasuki gua, beritahukanlah kepada teman atau keluarga; KAPAN perginya, ke lokasi mana dan KAPAN pulangnya.

Empat orang adalah jumlah MINIMAL yang dianggap aman untuk menelusuri gua. Bila satu yang celaka, satu menemaninya, dua yang keluar gua minta pertolongan.

Alat-alat yang dibawa harus memadahi. Setiap pemakai harus paham betul cara menggunakannya.

Membawa TIGA SUMBER CAHAYA, lengkap dengan cadangan perlatannya, merupakan kewajiban mutlak.

Ajak selalu orang yang berpengalaman dalam teknik penelusuran dan berwibawa. Ia juga harus mengetahui seluk beluk lingkungan di bawah tanah.

Nafas sesak dan tersengal-sengal merupakan pertanda, bahwa ruang gua penuh karbodioksida. Karenanya harus cepat keluar gua.

Akal sehat, ketrampilan, persiapan matang, perhitungan cepat dan tepat, serta pengalaman, menjadi PEGANGAN PENELUSURAN GUA, bukan adu nasib atau kenekatan.

Naluri keselamatan yang ada pada setiap penelusur gua harus dikembangkan dan diperhatikan, karena naluri ini sering diandalkan sebagai factor pengaman ampuh.

  1. 2. SPELEOSENTRISME.

Perlu diketahui, bahwa pemikiran dari segi BAHAYA PENELUSUR TERHADAP GUA, tidak mendapat perhatian yang seimbang. Hal ini disebabkan akibat keacuhan, kurang pengertian terhadap bentukan alam yang begitu peka, rendah daya dukungnya, rendah daya lentingnya.

Akibat orang masuk gua dapat dipelajari dari serial foto yang sering dibuat di Eropa dalam jangka waktu 10 sampai 50 tahun. Apa yang pada tahun 1800 masih merupakan gua utuh, pada tahun 1850 sudah mulai rusak.pada tahun 1900 sudah rusak sebagaian besar, pada tahun 1950 sudah rusak total. Di Jawa boleh dijadikan contoh Gua Intan sebelah Gua Jatijajar, yang semula indah (sebelum PD II), kini sudah rusak total.

Satu-satunya cara mencegah perusakan gua ialah dianutnya:

2.1.       KODE ETIK PENELUSURAN GUA

Secara internasional disepakati, bahwa menjelaskan/memberitahukan lokasi gua kepada awam, apabila melalui media massa, adalah pelanggaran kode etik terberat, apabila si penemunya belum yakin, ada instansi yang dapat melindungi gua itu. Belum ada yang kompeten mengelolanya.

2.2.       HARUS DITETAPKAN SISTEM PERIZINAN DAN REKOMENDASI KETAT.

KETAT untuk menelusuri gua belantara yang belum dibuka untuk umum. Hal ini secara konsekuen harus diikuti oleh perorangan atau instansi manapun yang ingin memasuki gua tertentu, dan harus jelas apa tujuannya. Harus ditindaklanjutkan dengan penyerahan laporan yang bermutu. Pemberi rekomendasi harus berani bertanggung jawab dan ikut dipersalahkan, bila sampai gua itu rusak atau terjadi hal – hal yang menyebabkan kemuduran kualitas gua itu.

2.3.       SECARA KONSEKUEN DITETAPKAN UNDANG – UNDANG TEPAT YANG MELINDUNGI GUA DAN BIOTA DALAM GUA.

Di AS setiap gua didenda minimal US$ 500,-. Undang-Undang lingkungan hidup dan perlindungan jenis harus ditetapkan secara konsisten.

2.4.       AKSES TETAP DIBIARKAN SULIT.

Sekali akses dipermudah, para vandalis dengan berbondong – bondong akan mendatangai gua dan merusaknya.

2.5.       LARANGAN MEDIA MASSA MENERBITKAN ARTIKEL MENGENAI GUA-GUA INDAH DAN PEKA.

Hal ini sulit diterapkan dan butuh pengertian dari media massa. Redaksi harus sadar, bahwa PUBLIKASI mengenai lokasi gua hampir senantiasa berbau publisitas, untuk memenuhi ego si penyebar berita. Hampir tidak ada pemikiran atau tanggung jawab moral dari si penyebar berita, akan bahaya perusakan gua oleh tindakannya itu. Jadi si penyebar berita TIDAKLAH MANUSIA YANG BERTANGGUNG JAWAB

2.6.       JANGAN MENGAJAK SEMBARANG ORANG MEMASUKI GUA.

Secara internasional terbukti berulangkali, bahwa yang diajak itu mungkin orang yang bermoral tinggi dan menjunjung tinggi etika konservasi, namun ia pada gilirannya mengajak orang lain. Orang lain mengajak lagi orang lain, yang sama sekali tidak dikenal oleh pengajak pertama. Pada gilirannya masuklah para vandalis. Mengantarkan peminat masuk gua, padahal belum kenal pada peminat itu, juga pelanggaran etika. Sering hanya didasari ingin pamer dan agar dirinya dianggap orang berpengalaman atau orang terkenal. Padahal ia sebenarnya orang yang tidak bertanggung jawab.

2.7.       GUA DITUTUP.

Biasanya dengan pintu gua (CAVE GATE) desain khusus, sehingga tidak mengusik keluar-masuknya biota gua, khususnya kelelawar dan burung kapinis dan wallet.

2.8.       MENGSAKRALKAN GUA.

Biar dianggap keramat. Dijaga jurukunci, yang senantiasa mengawasi penelusur gua.

2.9.       MELARANG TOTAL MEMASUKI GUA.

Hal ini perlu diberlakukan, bagi gua yang memiliki nilai ilmiah tinggi, amat peka, atau mempunyai nilai strategis tinggi. Juga apabila memiliki nilai ekonomis tinggi oleh adanya sarang wallet, misalnya. Pelarangan harus secara konsekuen dilakukan dengan menempatkan penjaga di dekat mulut gua.

2.10.   TIDAK MENYEBARKANLUASKAN LAPORAN DAN PETA GUA.

Laporan hanya untuk diserahkan kepada instansi pemberi izin dan rekomendasi. Atau pada instansi yang mempunyai kepentingan (PUSLIT ARKENAS, LIPI, dsb).

Bahaya yang dapat ditimbulkan oleh penelusur gua terhadap gua dan isinya banyak sekali. Bahaya itu berupa perusakan yang sifatnya PERMANEN atau hanya SEPINTAS, KUMULATIF atau SINERGISTIK.

Gangguan atau perusakan permanen timbul, misalnya akibat gua itu “dipugar” dengan patung – patung, seperti dalam gua Jatijajar. Biarpun patung-patung itu disingkirkan, gua sudah kepalang rusak dan tidak mungkin diperbaiki. Juga apabila sedimen dibuang, seperti pernah dianjurkan seorang pakar geologi untuk memugar suatu gua di Jawa Tengah.

Sedimen merupakan tapak sejarah yang tidak dapat diganti, apabila dibuang. Para ahli arkeologi, lapis demi lapis meneliti sedimen untuk menemukan fosil-fosil zaman prasejarah. Para ahli paleontologi, palinologi, sedimentologi (paleomagnetisme) akan kehilangan jejak, apabila sedimen terusik, diangkat, demi untuk memudahkan turis umum memasuki gua.

Efek KUMULATIF terjadi bila banyak orang mengakibatkan gangguan yang sifatnya penjumlahan sederhana. Misalnya 10 orang meninggalkan jejak 10 kali lebih banyak dari 1 orang.

Efek SINERGISTIK terjadi bila timbul penjumlahan efek negatif secara deret ukur. Jauh lebih banyak daripada penjumlahan sederhana. Contoh : 5 kali memasuki gua yang banyak kelelawarnya dalam satu hari, menimbulkan gangguan yang tidak sama dengan penjumlahan sederhana ( lima kali terganggu ). Kelelawar begitu terusik, sehingga akan pindah tempat.

Efek negatif itu bisa berupa:

–                Memasukkan bakteri, cendawan, ragi dari dunia luar ke dalam dan merusak gua mikroekosistem gua.

–                Hiruk pikuknya penelusur gua mengusik ketenangan abadi gua dan karenanya juga mengganggu biota gua yang sudah mengadaptasi diri mereka pada kesepian abadi.

–                Lampu terang benderang mengusik biota gua. Dapat menumbuhkan algae yang merusak.

–                Bau karbit, Asap obor, dapat merusak lingkungan gua dan mengganggu biota gua.

–                Coret-coret, pengecatan dinding dan dekorasi gua.

–                Pematahan dekorasi gua untuk dibawa pulang sebagai cindera mata. Pengambilan mutiara gua. Menginjak formasi kalsit atau gipsun yang teramat peka dan mudah rusak.

–                Mencemari air dalam gua oleh karbit atau sisa makanan/minuman. Merusak biota gua.

Untuk menjaga keutuhan lingkungan gua, HIKEPSI berhasil pula menyusun ringkasan policy yang mudah diingat:

Kepekaan gua dan lingkungannya terhadap setiap bentuk pencemaran harus selalu diingat oleh penelusur gua.

Otoritas yang berwenang dalam konservasi alam hendaknya dihubungi untuk diajak bekerja sama.

Nasehat dari ilmuwan dan saran-saran mereka senantiasa harus diperhatikan dan dijadikan NARA SUMBER.

Sumber daya AIR, BIOTA, FORMASI dan SEDIMEN GUA perlu dijaga kelestariannya.

Ekologi di dalam dan di luar gua ERAT HUBUNGANNYA dan berada dalam KESEIMBANGAN DINAMIS.

Rehabilitasi kerusakan gua dan lingkungannya sangat sangat mustahil dilakukan.

Vandalisme amat merusak gua dan lingkungannya. Harus aktif ditentang atau dihindari.

Amankan gua dan lingkungannya, agar bebas coretan dan pencemaran.

Sadarkan semua pihak akan pentingnya hampir semua gua sebagai sumber daya alam, yang karenanya perlu dilindungi.

Inisiatif ikut menjaga kelestarian gua dan lingkungannya, besar artinya bagi NUSA, BANGSA dan GENERASI yang akan datang.

Yang penting saat ini ialah MENDATA SELURUH GUA yang ada di Indonesia secara terintegrasi, karena tanpa pendataan tepat, mungkin gua – gua akan lenyap dari bumi persada Indonesia.

Speleologi

Sumber : Materi KDKL Himpunan Kegiatan Speleologi Indonesia( HIKESPI) 2007

SPELEOLOGI

 

Speleologi secara morfologi berasal dari bahasa Yunani yaitu : Spalion = Gua dan Logos = ilmu. Jadi secara harfiah diterjemahkan ilmu yang mempelajari tentang gua, tetapi karena perkembangan speleologi itu sendiri, speleologi juga mempelajari tentang lingkungan di sekitar gua.

Menurut IUS (International Union of Speleology) anggota komisi X UNESCO PBB yang berkedudukan di Wina Austria :

“ Gua adalah setiap ruangan  bawah tanah yang dapat dimasuki orang “

Menurut R.K.T.Ko (Speleogiawan) :

“Setiap lubang di bawah tanah baik terang maupun gelap, luas maupun sempit, yang terbentuk melalui sistem percelahan, rekahan atau aliran sungai yang kadang membentuk suatu lintasan aliran sungai bawah tanah”

 

Gua memiliki sifat yang khas dalam mengatur suhu udara di dalamnya, yaitu pada saat udara diluar panas maka didalam gua akan terasa sejuk, begitu pula sebaliknya. Sifat tersebut menyebabkan gua dipergunakan sebagai tempat berlindung. Gua – gua yang banyak ditemukan di Pulau Jawa dan pulau – pulau lainnya di Indonesia, sebagian besar adalah gua batu gamping atau gua karst. Gua merupakan suatu lintasan air di masa lampau dan kini kering (gua fosil) atau dimasa kini, dan terlihat dialiri sungai (gua aktif). Karenanya mempelajari gua tidak terlepas dari mempelajari hidrologi karst dan segala fenomena karst dibawah permukaan (endo karst phenomena) supaya memahami cara – cara gua terbentuk dan bagaiman memanfaatkannya sebagai sumber daya alam yang mempeunyai nilai estetika tinggi sebagai objek wisata gua, atau sebagai sumber air, tanpa mencemarinya.

 

Di dunia ini terdapat berbagai jenis gua alam yaitu :

Gua garam (NaCl)       : Gua yang materi pembentuknya terdiri dari garam

Gua es        : Gua yang materi pembentuknya terdiri dari es, akibat dari es yang mencair sebagian.

Gua Lava  : Akibat aliran lava yang sudah mati, biasanya pada gunung yang tidak aktif lagi.

Gua batu kapur                   : Gua yang materi pembentuknya terdiri dari batu kapur atau batu gamping ( CaCo3 )

Gua gips    : Gua yang materi pembentuknya terdiri dari bahan gips.

90% dari gua-gua di dunia adalah gua yang materi pembentuknya dari batu kapur.

 

Sejarah Penelusuran Gua

 

Tidak ada catatan resmi kapan manusia menelusuri gua. Berdasarkan peninggalan – peninggalan, berupa sisa makanan, tulang belulang, dan juga lukisan – lukisan, dapat disimpulkan bahwa manusia sudah mengenal gua sejak puluhan tahun silam yang tersebar di benua Eropa, Afrika, dan Amerika.

 

Menurut catatan yang ada, penelusuran gua dimulai oleh John Beaumont, ahli bedah dari Somerset, England (1674). Ia seorang ahli tambang dan geologi amatir, tercatat sebagai orang pertama yang menelusuri sumuran (potholing) sedalam 20 meter dan menemukan ruangan dengan panjang 80 meter, lebar 3 meter, serta ketinggian plafon 10 meter, dengan menggunakan penerangan lilin. Menurut catatan, Beaumont merangkak sejauh 100 meter dan menemukan jurang (internal pitch). Ia mengikatkan tambang pada tubuhnya dan minta diulur sedalam 25 meter dan mengukur ruangan dalam gua tersebut. Ia melaporkan penemuan ini pada Royal Society, Lembaga Pengetahuan Inggris. Orang yang paling berjasa mendeskripsikan gua – gua antara tahun 1670-1680 adalah BARON Johann Valsavor dari Slovenia. Ia mengunjungi 70 gua, membuat peta, sketsa, dan melahirkan buku setebal 2800 halaman.

 

Joseph Nagel, pada tahun 1747 mendapat tugas dari istana untuk memetakansistem perguaan di Kerajaan Astro-Hongaria. Sedangkan wisata gua pertama kali tercatat tahun 1818, ketika Kaisar Habsbrug Francis I dari Austria meninjau gua Adelsberg (sekarang bernama gua Postojna) terletak di Yugoslavia. Kemudian wiraswastawan Josip Jersinovic mengembangkannya sebagai tempat wisata dengan memudahkan tempat itu dapat dicapai. Diberi penerang dan pengunjung dikenai biaya masuk. New York Times pada tahun 1881 mengkritik bahwa keindahan gua telah dirusak hanya untuk mencari keuntungan.

 

Stephen Bishop pemandu wisata yang paling berjasa, ia budak belian yang dipekerjakan oleh Franklin Gorin seorang pengacara yang membeli tanah disekitar gua Mammoth, Kentucky Amerika Serikat pada tahun 1838. dan kini gua Mammoth diterima UNICEF sebagai warisan dunia.

 

Sedangkan di Indonesia, faktor mistik dan magis masih melekat erat di gua – gua. Baik gua sebagai tempat pemujaan, sesaji maupun bertapa. Namun semuanya memiliki nilai budaya, legenda, mistik, dan kepercayaan sesuatu terhadap gua perlulah didokumentasikan dan dihargai sebagai potensi budaya bangsa. Maka Antropologi  juga merupakan bagian Speleologi.

Lahirnya Ilmu Speleologi

 

Secara resmi ilmu Speleologi lahir pada abad – 19 berkat ketekunan Edward Alferd Martel. Sewaktu kecil ia sudah mengunjung gua Hahn di Belgia dengan ayahnya seorang Paleontologi, kemudian juga mengunjungi gua Pyrenee di Swiss dan Itali. Pada tahun 1888 ia mulai mengenalkan penelusuran gua dengan peralatan, pada setiap musim panas ia dan teman – temannya mengunjungi gua – gua dengan membawa 2 gerobak penuh peralatan, bahan makanan, dan alat fotografi. Martel membuat pakaian berkantung banyak yang sekarang disebut cover all (wearpack). Kantung itu diisi dengan peluit, batangan magnesium, 6 lilin besar, korek api, batu api, martil, 2 pisau, alat pengukur, thermometer, pensil, kompas, buku catatan, kotak P3K, beberapa permen coklat, sebotol rum dan telepon lapangan yang ia gendong. Sistem penyelamatannya dengan mengikatkan dirinya kalau naik atau menuruni dengan tali.

Tahun 1889, Martel menginjakkan kakinya pada kedalaman 233 m di sumuran ranabel, dekat Marseille, Perancis dan selama 45 menit tergantung di kedalaman 90 m. Ia mengukur ketinggian atap dengan balon dari kertas yang digantungi spon yang dibasahi alkohol, begitu spon dinyalakan balon akan naik keatas mencapai atap gua. Hingga kini Edward Alfred Martel disebut bapak Speleologi. Kemudian banyak ahli speleologi seperti : Pournier, Jannel, Biret, dan banyak lagi.

 

Baru setelah PD I Robert De Jolly dan Nobert Casteret mampu mengimbangi MARTEL. Robert de Jolly mampu menciptakan peralatan gua yang terbuat dari alluminium Alloy. Nobert Casteret orang pertama yang melakukan “Cave Diving” pada tahun 1922, dengan menyelami gua Motespan yang di dalam gua itu ditemukan patung – patung dan lukisan bison serta binatang lain dari tanah liat, yang menurut para ahli, itu sebagai acara ritual sebelum diadakan perburuan binatang, ditandai adanya bekas – bakas tombak dan panah. Namun dalam PD II, gua-gua digunakan sebagai tempat pertahanan, karena pertahanan di gua akan sulit ditembus walaupun menggunakan bom pada waktu itu.

 

Perkembangan Speleologi di Indonesia

 

Di Indonesia speleologi relatif tergolong suatu ilmu yang baru. Dalam hal ini masih sedikitnya ahli – ahli speleologi maupun pendidikan formal tentang speleologi. Speleologi baru berkembang sekitar tahun 1980, dengan berdirinya sebuah club yang bernama “SPECAVINA”, yang didirikan oleh NORMAN EDWIN (alm) dan RKT KO

Namun karena adanya perbedaan prinsip dari keduanya maka terpecah, dan mereka masing – masing mendirikan perhimpunan :

 

 

 

 

Pada tahun tersebut bermunculan club-club speleologi di Indonesia seperti ASC yang berdiri pada tanggal 1 Januari 1984, SSS – Surabaya, DSC – Bali, SCALA – Malang, dll.

Ilmu yang berkaitan erat dengan Speleologi

Dalam mempelajari Speleologi memerlukan pendekatan dari berbagai disiplin ilmu, antara lain :

Hidrologi karst             : Ilmu yang mempelajari tentang sistem perairan pada kawasan karst

Speleogenesis               : Ilmu yang mempelajari tentang proses terbentuknya gua

Biospeleologi                : Ilmu yang mempelajari tentang kehidupan yang terdapat di dalam gua.

Geomorfologi karst     : Ilmu yang mempelajari bentuakan alam di sekitar maupun di dalam gua.

Sedimentologi gua       : Ilmu yang mempelajari tentang sedimen gua

Antropologi   : Ilmu yang mempelajari tentang kehidupan manusia

Arkeologi       : Ilmu yang mempelajari tentang peninggalan kebudayaan manusia masa lalu.

Paleontologi  : Ilmu yang mempelajari tentang fosil binatang maupun tumbuhan masa lalu.

Daftar Alamat Mahasiswa Pecinta Alam Se-Madura

No. Nama Universitas Alamat
1. MPA. GHUBATRAS Universitas Trunojoyo
Jl. Raya telang po box 02 kamal bangkalan 60162.
Cp (085648176890 Rahmawati)

2. MAHAPETA STKIP PGRI Bangkalan
Jl. Raya Soekarno hatta bangkalan
3. MASTAPALA Stain Pamekasan JL. Panglengur kampus II STAIN pamekasan
cp( 081935190491 lumpur)

4. MAYAPADA STKIP SUMENEP Jl.Trunojoyo Gedungan Sumenep 69411
CP ( 081935156146/087850319135 gentak)

5. GREEN ZONE AL-AMIN PRENDUAN Sumenep
Jl. Pamekasan -Sumenep Kampus Idia Al-Amien Prenduan, Sumenep 69469 Cpv( 0818445009 comel)

SUFI PERKOTAAN (Menguak fenomena spiritualitas di Tengah kehidupan Modern

Sejumlah kota besar di Indonesia, Seperti Jakarta, Surabaya, Semarang, Palembang, dan Bandung, adalah bagian kota-kota di dunia ketiga, yang mengalami pertumbuhan sebagai kota modern, seperti Bangkok, Beijing, Manila, Sanghai Dsb. Slain sebagai pusat pemerintahan , dalam perkembangannya, kota- kota modern itu biasanya juga merupakan kota wisata, kota industry, dan pusat perdagangan. Beragam kepentingan bertemu , baik kepentingan politik, ekonomi, social , budaya Dsb.

Kota besar menjadi agent of transformation. Sebagaimana diketahui , bahwa modernisasi masyarakat, ditandai adanya proses transformasi besar, suatu perubahan masyarakat dengan segala aspeknya. Schoorl (1982) menyebutkan sejumlah aspek transformasi  yang menurutnya diawali dengan revolusi industri di Eropa. Dibidang ekonomi, modernisasi berarti timbulnya kompleks industri besar, produksi dilakukan secar masal. Spesialisasi produksi Dsb.sementara aspek yang tidak kalah penting menandai kemodernan adalah perkembangan ilmu pengetahuan. Atas dasar kebutuhan untuk mengembangkan barang–barang baru, mengembangkan ketrampilan dan keahlian dan sebagainya, maka dunia ilmu pengetahuan memperoleh tempat yang istimewa dalam masyarakat modern. ( Schoorl, 1982:2-3). Masyarakat kota yang cenderung memiliki gaya hidup modern menjadi pusat penentu  dalam dinamisasi masyarakat pada umumnya. Salah satu dampak dari perkembangan kota adalah menjadi tujuan kaum pendatang dari berbagai  daerah. Dengan berbagai latar belakang alasan mulai dari tujuan mencari nafkah, memperoleh pendidikan, ketrampilan, lapangan kerja dsb.Adapun cirri- ciri masyarakat perkotaan  diantaranya menurut Louis Wirth, secara personal adalah terpelajar, berpikir rasional, relativis, kompetitif, suka memperbesar kekayaan sendiri, suka berkelompok, gampang marah, mudah bersitegang, mudah frustasi, mudah merasa tidak nyaman dan merasa tidak aman , suka pada sesuatu yang baru serta suka menonjolkan status. (Wirth dalam : Peter H. Man, 1970: 106).

Arus modernisasi  membuat masyarakat kota terus beradaptasi dengan nilai-nilai baru. Gagasan tentang kemajuan  masih sangat dominan dalam pikiran masyarakat modern (Barat). Kritik banyak dilontarkan ketika prestasi  di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi dijadikan satu-satunya ukuran system keberhasilan. Maka yang terjadi adalah pendangkalan kualitas hidup. Nilai –nilai kebersamaan , keharmonisan, solidaritas social, kasih saying antar sesama, telah tergeser. Kehidupan masyarakat kota lebih didominasi  oleh pandangan kepentingan ekonomi dan politik serta tidak mempertimbangkan kenyataan lain seperti nilai-nilai budaya, termasuk kepercayaan keagamaan. Padahal segala sesuatu  yang non material adalah juga kenyataan yang menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat modern. Menurut Schoorl kepercayaan keagamaan yang sifatnya local tidak cocok lag untuk dunia luas. Agama dunia atau “ ideologi duniawi ‘ mengandung pandangan dunia yang lebih sesuai. Karena pengaruh dakwah tentang agama dunia at tentang ideology maka pandangan –pandangan  yang baru atau lebih baik yang diserap oleh pandangan masyarakat local atau menggantikan pandangan lama( Schoorl, 1982: 105).

tidak terelakkan kenyataan masyarakat modern dan terutama yang lebih menghargai nilai-nilai material dari pada nilai spiritual. Artinya , mereka yang menguasai sumber-sumber ekonomi lebih tinggi status sosialnya, dan mereka yang akses pada kekuasaan (politik) adalah yang lebih besar pengaruhnya di masyarakat.  Namun tidak berarti , komunitas yang didomonasi nilai spiritual atau yang besar perhatiannya pada masalah-masalah spiritual , semakin keci atau terpinggirkan. Tidak ada bukti bahwa keyakinan –keyakinan dan atribut keagaman local, telah terdegradasi. Kepercayaan-kpercayaan atau ideology local, tetap tidak bergeming, dan bertahan hingga kini. Futurolog John Naisbit meramalkan akan adanya kebagkitan agama-agama. Agama yang merefleksikan semangat karismatik akan menjadi fenomena baru di berbagai negara. Termasuk di dalamnya adalah dari kalangan islam, yang oleh Naisibit hanya disebut fondamentalisme di Iran, Afganistan diseluruh didunia Arab. Islam di Indonesia tampaknya luput dari pengamatan Naisibit. Sebagai Negara dengan penduduk Mayoritas (97% dari 211 juta Jiwa) beragama islam, tentu bukan masalah kecil unntuk menjadi pusat perhatian.

Fenomena perkotaan di Indonesia tak hanya dipenuhi gedung-gedung bertingkat dan prasarana tranportasi modern, tetapi juga oleh berkembangnya rumah-rumah ibadah berikut aktivitas, dan berkembangnya kelompok-kelompok keagamaan, kepercayaan-kepercayaan local di kota besar telah diperkaya dengan semakin tumbuh dan berkembang dalam bentuk yang lebih kompleks dan beraneka ragam. Sejumlah kelompok pengajian yang secara khusus membangun kualitas spiritual, pada kalangan elite 9 berpendapatan tinggi ), telah memunculkan istilah “ sufi perkotaan” dan hal ini seakan menjadi ANTI TREND atas apa yang dikemukakan oleh ernest Gallner dalam bukunya Muslim society sebagaimana di kutip oleh Howell ( 2001 ) yang meramalkan bahwa sufisme atau tasauf tidak identik dengan modernitas. Artinya, Masyarakat muslim yang semakin modern akan meninggalkan tasawuf. Gelliner yang banyak mengacu pada situasi di afrika utara dan timur tengah, mengangap tasauf  sebagai bagian dari kehidupan pedesaan. Dan sebagaimana juga dikemukakan oleh Howell juga bahwa sufisme bukan saja tidak mati karena proses modernisasi, tetapi justru membuktikan peranan yang besar.

Bukan tidak mungkin bahwa survive-nya Sufism adalah karena perkembngan kemodernan itu sendiri, atau setidaknya resiko sebuah perubahan yang didomonasi oleh aspek-aspek materil. Sejumlah pengamat menilai, telah terjadi aliensi pada masyarakat modern sekarang. Ketika gaya hidup di dominasi oleh pandangan yang materialistis. Kemudian merasa ada sesuatu kebutuhan yang masih diperlukan, karena kecukupan materi tidak menjamin kesejahteraan hidup dalam arti yang sebenarnya. Fenomena Sufism di tengah masyarakat yang terus beradaptasi terhadap nilai-nilai baru, seakan merupakan gerakaka masih bertahan dengan melawan arus transformasi. Mereka masih bertahan dengan kepercayaan-kepercayaan tradisional, dan sangat kuat mendambakan kepuasan batin, Komunitas dengan kecenderungannya yang begitu kuat melawn mainstream,seperti itu, bisa disebut sebagai petualang spiritual, karena mereka sanggup mengorbankan apa saja demi kepuasan batin.Mereka yang bersungguh-sungguh dalam membangun hubungan emosional (emotional connectedness) kepada tuhan.

Komunitas sufi perkotaan itu telah tumbuh dalam dua dasawarsa belakangan dan kini masih bertahan. Sementara trend masayarakat modern atau pasca modern terus begulir, dan komunitas ini terus juga melakukan pengetahuan-pengetahuan diri untuk tetep aksis sebagai kelompok yang tidak sekedar ingin diakui keberadaannya, tetapi juga ingin tetap menjadi bagian dari komunitas modern sebagai lazimnya warga perkotaan.

Beberapa contoh sufi perkotaan yang berada di kota-kota besar antara lain:

1.   Jamaah Tareqat Naqsyabandiyah khalidiyah surau Nurul amin Surabaya.

Tareqat yang berkembang di Indonesia adalah tareqat Naqsabandiyah, merupakan tarekat yang jumlah pengikutnya terbesar dan paling luas jangkauan penyebaranya.Berbeda dengan tareqat yang lain.tareqad ini tidak hanya menyeru kepada lapisan social tertentu saja tetapi juga dari wilayah perkotaan sampai ke wilayah pedesaan.

Tareqad Naqsyabandiyah khalidiyah yang dikembangkan oleh syeh kadirun tergolong unik lain dari yang lain, dikatakan unik karena tareqat ini tareqat konversional, namun kadirun menyebut sebagai tareqat modern dengan cirri khasnya yaitu metafisika ilmiah. Metafisika sebagai ilmu pasti dimana dalam menjelaskan masalah keagamaan disertai dengan contoh yang merajuk pada ilmu fisika, keunikan lainnya adalah kemampuan supranatural yang dimiliki oleh syeikh kadirun yaitu dengan metode metafisika-eksakta yang dikembangkannya. Syeikh kadirun mampu menerapkan dan menyalurkan tenaga illahi.

Latar Belakang Mengikuti Tareqat Naqsyabandiyah Khalidiyah

Pada akhir abad 20 dan memasuki abad-abad yang panjang di masa depan dunia tiba-tiba digebyorkan oleh pesta-pesta yang memabukan, lampu-lampu yang gemerlapmenembus cakrawala music menghentak-hentak dan kiprah penari eksotis lalu hamper seantero jagad manusia dipaksakan untuk menikmati dan menyaksikan hentakan suasana kegembiraan.Akan tetapi suasana akan berubah menjadi sepi,seperti cengkraman yang mengigit jiwa mereka yang pulang dari pesta itu.

Demikian gambaran sekilas mengenai manusia modern,manusia global, manusia dalam kampong kecil dunia, manusia dalam pertempuran memperebutkan khayalan-khayalan dan impian. Di dalam gemerlapnya dunia modern tersebut ada satu kesempatan yang justru muncul dari kesadaran dan sejkaligus kekecewaan. Sadar ketika dunia ruhani yang selama ini dianut oleh kalangan beragama, khususnya umat islam bahwa nilai-nilai agung dan luhur selama berpuluh tahun terlantarkan begitu saja, karena mereka terlibat dalam keasyikan politik intelektualisme dan perdebatan yang mengarah pada emosi.

Begitu juga dengan para pengikut tareqat Naqsyabandiyah khalidiyah adalah mereka yang kecewa terhadap kehidupan modern.Kekecewaan ini sebagai akibat dari keridak puasan terhadap ajaran agama yang selama ini diamalkan dan kesalahan atau kekurangan para pendidik agama ( org tua,guru agama, kyai ,ustad, dll ) yang hanya terpaku pada aspek ritual formal. Menurutnya agama tidak akan pernah selesai dengan formalisme keagamaan belaka, tanpa mencapai tujuan ma’rifat kepada Allah. Seperti dalam ibadah shalat sebelum mengikuti ajaran sufi selama ini mereka hanya menjalankan shalat hanya dirasakan sebatas pada gerakan jasmani saja, tidak merasakan kekhusyukan beribadah serta manfaat dalam kehidupan sehari-hari.

Pendidikan agama yang selama ini yang dilakukan secara konvensional, seperti pendidikan agama islam di sekolah, madrasah, tabligh akbar atau yang disuarakan resmi organisasi agama tidak mampu memberikan jawaban atas persoalan spiritualitas para pemeluknya.

2. FKE-UKAZH dan Ahlussunnah Waljamaah di Palembang.

latar historis lembaga dakwahForum eksekutif Keagamaan Ukazh

Secara historis lembaga dakwah forum Eksekutif Ukazh merupakan kegiatan pendukung untuk memperluas wawasan akademik tentang kajian bidang agama ( FKEP ) “Ukazh”, merupakan forum pertemuan bagi kalangan bangsawan pemuka suku bangsa arab dalam ajang pertarungan ideologis,antara tauhid dan syirik, antara kebudayaan jahiliyah dan peradaapan islam.Secara simbolik FKEP ingin mewarisi suasana dialogis keagamaan yang bersifat PLURALIs dalam suatu wadah modern, terbuka, dan demokratis.

Program dan Ajaran yang dikembangkan :

FKE_UKAZH secara bertahab dan gradual dimulai dengan membuka pengkajian masalah-masalah keislaman melalui kegiatan diskusi, dialog, dan temu ilmiyah lainnya secara serial.Berbagai temu penting yang dilahirkan dari serial kajian forum, dpat ditindak lanjuti dengan program aksi seperti: pemberdayaan masyarakat pedesaan, pembangunan institusi social, pendidikan dankeagamaan serta penertiban media-media publikasi.Dengan demikian Program FKE-UKAZH terbagi kepada tiga tahap yaitu:

a.       Jangka Pendek

1.      Pengkajian berkala ( bulanan ) secara bergilir dan bergulir dengan pembahasan topic secara tematik bagi anggota tetap.

2.      Membuka paket-paket kelas studi islam intentif yang terbuka bagi peminat dari kalangan umum.

b.      Jangka Menengah

1.      Menertibkan bulletin bulanan yang memuat hasil pengajian setiap bulan

2.      Menerbitkan buku hasil pengajian selama satu semester.

3.      Mempublikasikan aktifitas forum pengkajian melalui media cetak dan elektronik

4.      Menjalin kerja sama dengan forum pengkajian lainnya dan lembaga swadaya masyarakat ( LSM ) atau lembaga pemerintah yang mengemban visi yang sama dan sejalan.

c.       Jangka Panjang

1.      Membangun secretariat yang permanen dan independen.

2.      Melengkapi system administrasi perkantoran modern dengan sarana multimedia

3.      Membangun pilot project sarana pendidikan dan rumah sakit islam dikota Palembang.

b. Lembaga Ahliussunah WalJamaah

Yayasan Ahlussunah Wal Jamaah merupakan yayasan sosial keagamaan yang independen. Yayasan ini berdiri  berawal dari kepedulian KH. Ken Syukri untuk menegakkan ajaran agama yang benar terutama berkaitan dengan aqidah dan akhlak warga palembang. Program yang dikembangkan meliputi :

  • Lembaga pendidikan

Membuka sekolah diniyah, madarasah ibtidaiyah dan tsanawiyah.

  • Kelompok Bimbingan ibadah Haji

Rdiri Diperuntukkan bagi masyarakat Palembang khususnya yang ingin memperoleh bimbingan dalam melaksanakan haji.

  • Kegiatan Pengajian

Kegiatan pengajian yayasan dipimpin oleh KH. Ken Syukri selaku ketua yayasan. Kelompok pengajian tersebar di 33 tempat baik dimasjid-masjid, mushola, kantor, rumah.

Missi yang diemban dari pengajian adalah menegakkan kebenaran dan menjauhi kekeufuran. Model dakwah tediri dari dzikir taubat mengajarkan dasar-dasar tauhid, serta Tanya jawab. Dimana dasar tauhid haruslah kuat sehingga pemahaman terhadap tasawuf tidak keliru.

3. Kelompok Pengajian Eksekutif Nur illahi Semarang

Pertama berdiri dengan nama pengajian tawakal kemudian berganti nama menjadi nur illahi karena terdapat perbedaan pendapat dengan pengajian tawakal pusat di Jakarta. Memiliki jumlah anggota kurang lebih 500- 600 orang sejauh ini tidak memeiliki system administrasi yang ketat, sehingga daftar anggota tidak tersedia. Anggota Nur illahi mengaku mengikuti pengkajian ini karena selama ini ibadah yang dilakukan hanya sekedar secara formal dan belum bisa berdasarkan hakekat sebenarnya.

Beberapa pengolongan pengajian Nur illahi;

1.      Pengajian khusus wanita

2.      Pengajian dengan peserta campuran terdiri dari bapak-bapak, ibu-ibu dan remaja.

3.      Pengajian khusus grup , pesertanya khusus pengiring dan undangan lain.

4.      Pengajian Intensif( Privat), artinya yang pesertanya meminta pengajaran secara intensif dan secarra privat

5.      Pengajian khusus binaan pengajian yang diadakan oleh penggiring tanpa membawa bendera Nur Illahi.

Yang diajarkan berupa Zikir dan doa yang merupakan ijtihad dari para pengasuh, sebagaian besar pesertanya adalah wanita, ibu rumah tangga,pengajian dengan cara sederhana refrensi ayat-ayat Al-Qur,an.

4. Tareqat Naqsyabandiyah surau saiful amin Yogyakarta

Awalnya didirkan oleh Prof. DR. Kadirun Yahya MsC. Dari Medan setelah 10 tahun kegiatan wirid ,Zikir dan itikaf penganut tarekat Naqsabandiyah tersebut berada dalam sebuah yayasan Prof. DR. Kadirun Yahya MsC yang berpusat dimedan. Pengikut tarekat berasal dari kelompok lapisan yang sangat beragam . Mulai  dari tenaga kasar, kelas bawah seperti tukang becak, buruh,petani,dan pedagang. Karyawan , pengusaha, dosen , mahasiswa dsb.

Kegiatan yang dilakukan berupa dzikir ,itikaf secara kontinuitas. Serta ajarannya dapat dikatakan ketat seperti Penyebutan Mursyid, Adap murid tarekat terhadap guru, mempercayai silsilah guru Prof. DR. Kadirun Yahya MsC. Dengan nabi Muhammad, prosedur menjadi murid.

5. Anand Ashram Centre For Holistic Health and Meditation (Studi Etnografis Pusat Meditasi)

Anand Ashram merupakan pusat meditasi dan kesehatan holistic yang didirikan oleh Anand Krishna pada 14 januari 1991. Berlokasi di sunter Barat II-E , block H-10/1, Jakarta. Berdiri dengan latar belakang ingin memperkenalkan meditasi sebagai dasar dari kesehatan holistik mengingat pengalaman anand Khrisna  sendiri sembuh dari penyakit leukemia dimana dokter telah angkat tangan.

Anand Ashram hingga kini beranggotakan  kurang lebih 20.000 orang dengan latar belakang yang beragam dari 19 negara. Anand Krisna sendiri mempelajari tasawuf agama islam (jalaluddin Rumi), ajaran Kristen dan budha. Beliau menggangap bahwa sebenarnya jika melihat inti tiap ajaran agama kita tidak akan bermusuhan. Hanya saja selama ini kita melihat hanya dari kulit luar.

Metode pendidikan holistic dikembangkan olehnya karena menyentuh setiap lapisan kesadaran

Kesimpulan

Dengan perkembangan masyarakat dikota-kota besar , beradaptasinya nilai-nilai masyarakat dengn nilai-nilai baru yang modern. Masyarakat semakin memandang dunia secara materialistis namun hal yang demikian ternyata tidak membuat kegiatan spititual masyarakat hilang. Fenomena sufi perkotaan dikota- kota besar di Indonesia merupakan bukti konkret dari hal tersesebut. Diantaranya adalah Jamaah Tareqat Naqsyabandiyah khalidiyah surau Nurul amin Surabaya, FKE-UKAZH dan Ahlussunnah Waljamaah di Palembang, Kelompok Pengajian Eksekutif Nur illahi Semarang, Tareqat Naqsyabandiyah surau saiful amin Yogyakarta, Anand Ashram Centre For Holistic Health and Meditation (Studi Etnografis Pusat Meditasi). Adapun keanggotaan kelompok tersebut terdapat yang bersifat eksekutif dan ada yang bersifat non eksekutif dalam artinan semua masyarakat berkesempatan mengikutinya, walaupun tetap terdapat syarat-syarat yang harus dipenuhi untuk masuk kedalam suatu tarekat. Jika dilihat dari latar belakang masyarakat mengikuti tasawuf sebagaian besar beralasan bahwa  selama ini mereka hanya memperoleh ilmu hanya dasar saja dan secara formal yang di dapat dari orang tua, guru, kyai,dll sehingga mereka mencari ibadah yang sebenarnya yang bisa memuaskan batiniyahnya.